Cerpen 1:
ALASAN
By : Priska Devina
Ia pernah tidak
menyukai perempuan itu.
Cerita buatannya
terlalu vurgal, itu alasannya.
Ia ingat,
Ia ingat,
segala sesuatu
yang berhubungan dengan kata
kelamin, sex, meremas, puting,
adalah kata kata
yang berkonotasi miring dan porno,
itu kata guru
agamanya,
itu kata ibunya,
itu kata
neneknya.
Dan kumpulan kata kata itu yang sering perempuan itu tulis dalam cerpen dan novelnya
Dan kumpulan kata kata itu yang sering perempuan itu tulis dalam cerpen dan novelnya
Perempuan tanpa suami yang jadi penulis novel terkenal
Ia heran,
Di negara yang katanya agamis ini,
Bisa bisanya orang mengelu elukan novel berbau sensual
seperti yang ditulis perempuan itu
Hmm…. Mungkin sekarang orang sudah bosan munafik
Jadi segala yang agak berbau perut ke bawah
atau yang bisa
membangkitkan desir desir aneh di tubuh,
itulah yang akan mereka buru
Soal tulisan perempuan itu, ehem………
Ia mesti jujur,
tak bisa ia pungkiri, kata kata itu kadang...
Menimbulkan
sensasi tertentu di sela selangkangnya juga.
sensasi yang ia sendiri tidak tahu dari mana dan mengapa
sensasi yang ia sendiri tidak tahu dari mana dan mengapa
rasa mirip seperti bagian bawah perutnya ditusuk tusuk
Kadang seperti ingin pipis dia
Namun ia tekan dalam dalam perasaan itu
Sesaat kemudian …….. perasaan
itu hilang
Hanya sesaat…..
Merasa berdosa dia …..
Maka, ketika ia mulai menulis, ia menulis dengan santun.
Kata kata ia pilih hati hati seperti calon pengantin memilih cincin kawin.
Akhir cerita ia
pikirkan dan renungkan,
terus dan terus,
supaya para
pembacanya bisa mendapat makna.
Ia akan berulang kali membaca dan membaca lagi setiap tulisannya, sebelum ia luncurkan.
Kali ini, setelah 30 tulisan ia broadcast ke semua contact listnya, via Black Berry dan email, dan dihujani banyak pujian.....
Ia kini terserang demam kebosanan dan stagnasi.
Ia akan berulang kali membaca dan membaca lagi setiap tulisannya, sebelum ia luncurkan.
Kali ini, setelah 30 tulisan ia broadcast ke semua contact listnya, via Black Berry dan email, dan dihujani banyak pujian.....
Ia kini terserang demam kebosanan dan stagnasi.
Ia bahkan bukan penulis
Ia tidak tidak dibayar untuk semua yang ia ketik
Ia malahan mendapat makan dari pekerjaan yang ia tidak sukai
Hatinya memberontak dalam diam
Suara nuraninya menggedor gedor dalam mimpi
Menyuruhnya terbangun dan berani ambil keputusan
Ia bingung…..
Ia benci pada pekerjaan sebagai agen asuransi.
Ia benci seolah harus mengemis demi sebuah closingan case.
Ia benci dimarahi oleh klientnya.
Ia benci dihindari calon prospeknya.
Ia benci mesti bolak balik demi semua rancangan asuransi yang ia kejar.
Ia lebih senang mengetik, dengan Javelin nya.
Menarikan
jemarinya membuat serasa bebas merdeka.
Mengeluarkan
semua tumpahan emosi dan kegelisahannya.
Ia merasa seperti burung, seperti kupu kupu, bebas terbang, hinggap di semua tempat yang sarat imaginasi.
Bebas dari kukungan moral, aturan, kewajiban, dan norma.
Ia ingin bergerak, seperti ia mau.
Ia merasa seperti burung, seperti kupu kupu, bebas terbang, hinggap di semua tempat yang sarat imaginasi.
Bebas dari kukungan moral, aturan, kewajiban, dan norma.
Ia ingin bergerak, seperti ia mau.
Ia ingin
melakukan hal yang sungguh sungguh ia inginkan.
Haaah..!
Melakukan hal yang sungguh sungguh ia inginkan?
Apa itu?
Mengejar kekasihnya yang saat ini adalah ayah dari 2 orang anak?
Menyerahkan diri untuk diciumin sepuasnya oleh mantan teman SMA yang dulu pernah ia kejar setengah mati?
Atau hinggap ke lelaki mana saja, yang bisa ia sukai dan kagumi?
Ibunya akan mati berdiri.
Ayahnya akan bangkit dari kubur.
Neneknya akan mengoyak kafannya sendiri.
Gurunya akan menangis darah,
Jika ia melakukan itu.
Jadi,
Ia sekarang disini.
Bersikap santun.
Menjaga norma seperti yang orang orang inginkan darinya.
Istri seorang pejabat, harus selalu jadi suri teladan.
Jadi panutan istri istri bawahan di departemen suaminya.
Jadi contoh Ibu Ibu yang lain di sekolah negri anaknya.
Kata kata ditata.
Polah laku dipoles.
Baju dipilih teliti sebelum dipakai.
Dan,
Ia sungguh merasa ia bukan dirinya lagi.
Ia merasa, ia sungguh telah sekarat, hampir mati.
Ia mati, sebelum merdeka.
Sebelum dunia tahu siapa dia, apa yang ia inginkan...
Norma, kewajiban, aturan, tuntutan, telah membunuhnya.
...............
........
Haaah..!
Melakukan hal yang sungguh sungguh ia inginkan?
Apa itu?
Mengejar kekasihnya yang saat ini adalah ayah dari 2 orang anak?
Menyerahkan diri untuk diciumin sepuasnya oleh mantan teman SMA yang dulu pernah ia kejar setengah mati?
Atau hinggap ke lelaki mana saja, yang bisa ia sukai dan kagumi?
Ibunya akan mati berdiri.
Ayahnya akan bangkit dari kubur.
Neneknya akan mengoyak kafannya sendiri.
Gurunya akan menangis darah,
Jika ia melakukan itu.
Jadi,
Ia sekarang disini.
Bersikap santun.
Menjaga norma seperti yang orang orang inginkan darinya.
Istri seorang pejabat, harus selalu jadi suri teladan.
Jadi panutan istri istri bawahan di departemen suaminya.
Jadi contoh Ibu Ibu yang lain di sekolah negri anaknya.
Kata kata ditata.
Polah laku dipoles.
Baju dipilih teliti sebelum dipakai.
Dan,
Ia sungguh merasa ia bukan dirinya lagi.
Ia merasa, ia sungguh telah sekarat, hampir mati.
Ia mati, sebelum merdeka.
Sebelum dunia tahu siapa dia, apa yang ia inginkan...
Norma, kewajiban, aturan, tuntutan, telah membunuhnya.
...............
........