Sabtu, 11 Agustus 2012

cerpen 1 : ALASAN


Cerpen 1:

ALASAN

By : Priska Devina



Ia pernah tidak menyukai perempuan itu.

Cerita buatannya terlalu vurgal, itu alasannya.

Ia ingat,

segala sesuatu yang berhubungan dengan kata kelamin, sex, meremas, puting,

adalah kata kata yang berkonotasi miring dan porno,

itu kata guru agamanya,

itu kata ibunya,

itu kata neneknya.

Dan kumpulan kata kata itu yang sering perempuan itu tulis dalam cerpen dan novelnya

Perempuan tanpa suami yang jadi penulis novel terkenal



Ia heran,

Di negara yang katanya agamis ini,

Bisa bisanya orang mengelu elukan novel berbau sensual seperti yang ditulis perempuan itu

Hmm…. Mungkin sekarang orang sudah bosan munafik

Jadi segala yang agak berbau perut ke bawah

atau   yang bisa membangkitkan desir desir aneh di tubuh,

itulah yang akan mereka buru





Soal tulisan perempuan itu, ehem………

Ia mesti jujur,

tak bisa ia pungkiri, kata kata itu kadang...

Menimbulkan sensasi tertentu di sela selangkangnya juga.
sensasi yang ia sendiri tidak tahu dari mana dan mengapa

rasa mirip seperti bagian bawah perutnya ditusuk tusuk

Kadang seperti ingin pipis dia

Namun ia tekan dalam dalam perasaan itu

Sesaat kemudian ……..  perasaan itu hilang

Hanya sesaat…..

Merasa berdosa dia …..


Maka, ketika ia mulai menulis, ia menulis dengan santun.
Kata kata ia pilih hati hati seperti calon pengantin memilih cincin kawin.

Akhir cerita ia pikirkan dan renungkan,

terus dan terus,

supaya para pembacanya bisa mendapat makna.

Ia akan berulang kali membaca dan membaca lagi setiap tulisannya, sebelum ia luncurkan.

Kali ini, setelah 30 tulisan ia broadcast ke semua contact listnya, via Black Berry dan email, dan dihujani banyak pujian.....
Ia kini terserang demam kebosanan dan stagnasi.


Ia bahkan bukan penulis

Ia tidak tidak dibayar untuk semua yang ia ketik

Ia malahan mendapat makan dari pekerjaan yang ia tidak sukai

Hatinya memberontak dalam diam

Suara nuraninya menggedor gedor  dalam mimpi

Menyuruhnya terbangun dan berani ambil keputusan

Ia bingung…..


Ia benci pada pekerjaan sebagai agen asuransi.
Ia benci seolah harus mengemis demi sebuah closingan case.
Ia benci dimarahi oleh klientnya.
Ia benci dihindari calon prospeknya.
Ia benci mesti bolak balik demi semua rancangan asuransi yang ia kejar.

Ia lebih senang mengetik, dengan Javelin nya.

Menarikan jemarinya membuat serasa bebas merdeka.

Mengeluarkan semua tumpahan emosi dan kegelisahannya.
Ia merasa seperti burung, seperti kupu kupu, bebas terbang, hinggap di semua tempat yang sarat imaginasi.
Bebas dari kukungan moral, aturan, kewajiban, dan norma.

Ia ingin bergerak, seperti ia mau.

Ia ingin melakukan hal yang sungguh sungguh ia inginkan.

Haaah..!
Melakukan hal yang sungguh sungguh ia inginkan?
Apa itu?
Mengejar kekasihnya yang saat ini adalah ayah dari 2 orang anak?
Menyerahkan diri untuk diciumin sepuasnya oleh mantan teman
SMA
yang dulu pernah ia kejar setengah mati?
Atau hinggap ke lelaki mana saja, yang bisa ia sukai dan kagumi?

Ibunya akan mati berdiri.
Ayahnya akan bangkit dari kubur.
Neneknya akan mengoyak kafannya sendiri.
Gurunya akan menangis darah,
Jika ia melakukan itu.

Jadi,
Ia sekarang disini.
Bersikap santun.
Menjaga norma seperti yang orang orang inginkan darinya.
Istri seorang pejabat, harus selalu jadi suri teladan.
Jadi panutan istri istri bawahan di departemen suaminya.
Jadi contoh Ibu Ibu yang lain di sekolah negri anaknya.

Kata kata ditata.
Polah laku dipoles.
Baju dipilih teliti sebelum dipakai.

Dan,
Ia sungguh merasa ia bukan dirinya lagi.
Ia merasa, ia sungguh telah sekarat, hampir mati.
Ia mati, sebelum merdeka.
Sebelum dunia tahu siapa dia, apa yang ia inginkan...
Norma, kewajiban, aturan, tuntutan, telah membunuhnya.
...............
........